Lhokseumawe, 26 Juni 2026 – Tanaman eceng gondok selama ini kerap dianggap sebagai momok bagi masyarakat karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan sifatnya yang invasif. Keberadaannya di perairan sering menimbulkan berbagai masalah, mulai dari mengganggu ekosistem hingga menyumbat saluran air.
Namun, di tangan kreatif seorang warga Lhokseumawe, tanaman yang selama ini dianggap gulma tersebut justru diubah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis. Sufiati berhasil memanfaatkan eceng gondok menjadi berbagai kerajinan tangan yang estetik dan fungsional, salah satunya keranjang anyaman.
“Batang eceng gondok ini kalau dikeringkan lalu dianyam bisa menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual, seperti keranjang, tas, dan kerajinan lainnya,” ujar Sufiati.
Proses pembuatannya dimulai dengan memilih batang eceng gondok yang berkualitas. Batang-batang tersebut kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Setelah itu, bahan yang telah kering dianyam secara teliti hingga membentuk keranjang yang kokoh dan menarik.
Menurut Sufiati, pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan kerajinan tidak hanya membuka peluang usaha bagi masyarakat, tetapi juga membantu mengurangi populasi tanaman invasif yang selama ini menjadi permasalahan di lingkungan perairan.
Melalui sentuhan kreativitas dan inovasi, eceng gondok yang semula dianggap tidak bernilai kini mampu disulap menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi. Upaya ini menjadi contoh bahwa limbah dan gulma dapat diolah menjadi peluang usaha yang bermanfaat bagi masyarakat serta lingkungan.