Lhokseumawe, 14 Juni 2026 – Bagi sebagian orang, kuliah tata busana mungkin terdengar sederhana. Banyak yang menganggap mahasiswa tata busana hanya belajar menjahit dan membuat pakaian di depan mesin jahit. Namun, realitas di bangku perkuliahan ternyata jauh lebih kompleks dan menantang.
Hal tersebut dirasakan langsung oleh Zahratun Nabila, mahasiswi semester enam Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dengan konsentrasi Tata Busana di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
Nabila mengaku ketertarikannya terhadap dunia fesyen sudah muncul sejak kecil. Ia gemar menggambar dan mendesain pakaian. Ketertarikan itu terus berkembang hingga masa SMA, ketika ia mulai mendalami bidang tersebut melalui kegiatan ekstrakurikuler tata busana.
Melihat minatnya yang terus bertahan, Nabila akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di bidang yang ia sukai dengan berkuliah di USK. Namun, saat memasuki dunia perkuliahan, ekspektasinya langsung berhadapan dengan kenyataan yang berbeda.
“Awalnya saya mengira kuliah tata busana itu hanya menjahit dan membuat pola. Ternyata saya cukup terkejut karena kami juga belajar konstruksi busana, manajemen usaha, serta harus memahami berbagai jenis kain. Dulu saya memilih tata busana karena ingin menghindari matematika, tetapi ternyata saat membuat pola pakaian justru tetap membutuhkan perhitungan matematika,” ujarnya.
Menurut Nabila, masih banyak masyarakat yang menyamakan kuliah tata busana dengan kursus menjahit biasa. Padahal, materi yang dipelajari di perguruan tinggi jauh lebih luas.
“Banyak orang berpikir tata busana sama seperti kursus menjahit, sehingga sering bertanya mengapa harus kuliah jika bisa mengikuti kursus. Padahal, di sini kami tidak hanya belajar menjahit. Kami juga mempelajari tren fesyen, kriya, hingga analisis bentuk tubuh agar pakaian yang dirancang dapat menyesuaikan dan menyamarkan kekurangan tubuh seseorang,” jelasnya.
Selain menuntut kreativitas dan keterampilan, kuliah tata busana juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebagian besar pengeluaran mahasiswa digunakan untuk membeli bahan praktik dan peralatan penunjang.
“Biayanya cukup mahal karena setiap jenis kain membutuhkan perlakuan yang berbeda. Benang yang digunakan bisa berbeda, bahkan jarumnya juga harus disesuaikan agar hasil jahitan lebih baik,” kata Nabila.
Sebagai mahasiswa tata busana, ia juga dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan tren fesyen. Menurutnya, tren mode memiliki siklus yang terus berulang dari waktu ke waktu.
“Tren fesyen itu selalu berputar. Apa yang pernah populer di masa lalu bisa kembali menjadi tren di masa depan. Contohnya renda. Saat ini banyak anak muda yang kembali menggunakan renda pada pakaian mereka,” ungkapnya.
Di akhir perbincangan, Nabila memberikan pandangan realistis bagi calon mahasiswa yang tertarik menekuni bidang tata busana. Menurutnya, minat dan konsistensi menjadi faktor utama untuk bertahan di jurusan tersebut.
“Kalau memiliki minat yang kuat dan bisa konsisten, jurusan ini sangat sepadan untuk dijalani. Namun, kalau tidak memiliki minat, akan terasa berat karena membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Jadi, siapa pun yang ingin masuk ke jurusan ini harus benar-benar memiliki ketertarikan terhadap bidang tata busana,” pungkasnya.