Lhokseumawe, 4 Juli 2026 – Di tangan Wedi Periyatno, limbah batok kelapa yang sering dianggap tidak bernilai berubah menjadi karya seni kaligrafi yang indah. Warga Desa Tambon Tunong ini telah menekuni kerajinan tersebut sejak tahun 1998.
Berawal dari banyaknya batok kelapa yang terbuang di sekitar rumah, Wedi terinspirasi untuk mengolahnya menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual.
Setiap karya dibuat melalui proses memotong batok sesuai ukuran, menghaluskan, memoles, hingga menyusun setiap potongan menjadi kaligrafi.
"Awalnya cuma untuk mengisi waktu, tapi saya melihat batok kelapa bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai seni," ujar Wedi.
Menurutnya, satu karya kaligrafi membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Proses pembuatannya bahkan dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga tahun hingga menghasilkan karya yang sempurna.
Melalui kerajinan ini, Wedi berharap limbah batok kelapa tidak lagi dipandang sebagai sampah, melainkan dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.