LHOKSEUMAWE — Setiap Minggu pagi, Jalan Teuku Hamzah Bendahara, Kota Lhokseumawe, lepas dari riuh kendaraan bermotor. Jalan utama kota tersebut berubah fungsi menjadi ruang publik yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang dalam agenda Ahad Festival.
​Di sepanjang sisi jalan, deretan tenda UMKM berdiri menjajakan aneka kuliner, mulai dari makanan tradisional hingga minuman segar.
Suasana rileks ini dimanfaatkan warga untuk berolahraga, bersantai bersama keluarga, hingga berburu jajanan akhir pekan.
​Ana, salah seorang pengunjung setia, mengaku selalu meluangkan waktu datang ke festival ini.
​"Hampir setiap Ahad saya datang. Saya suka jajanan seperti cireng, risol, dan gorengan di sini," ungkapnya.
Bagi Ana, menikmati jajanan hangat di udara pagi memberikan sensasi rileks yang sulit didapat di pusat perbelanjaan modern.
​Senada dengan Ana, Bu Linda menilai keberlanjutan acara yang rutin digelar setiap minggu menjadi nilai tambah utama Ahad Festival.
Berbeda dari event musiman biasa, kepastian jadwal setiap Minggu memberikan warga ruang konsisten untuk melepas penat dari rutinitas mingguan.
Menjadi Penopang Ekonomi UMKM
​Selain menjadi sarana rekreasi warga, Ahad Festival terbukti menggerakkan roda ekonomi pelaku usaha kecil.
Kehadiran ribuan pengunjung setiap akhir pekan menjadi peluang besar bagi pedagang untuk memperkenalkan produknya secara langsung.
​Bunita, penjual Es Telang Bu Nita yang sudah tiga tahun berjualan di lokasi tersebut, merasakan dampak positif secara langsung.
​"Acara ini diadakan Pemko Lhokseumawe dan menjadi wadah UMKM berkumpul. Pengunjungnya ramai, dan keberadaan mereka sangat memengaruhi keuntungan kami," ujar Bunita. Ia berharap pemerintah daerah terus mempertahankan kegiatan ini agar usaha lokal dapat terus tumbuh.
​Ahad Festival membuktikan bahwa pembangunan kota tidak selalu harus berupa gedung megah. Dengan sekadar memberikan ruang bagi warga untuk saling bertatap muka dan berinteraksi, ruang publik dapat hidup sekaligus menghidupkan perekonomian lokal.