Lhokseumawe, 20 Juni 2026–Di sepanjang jalur padat Jalan Medan–Banda Aceh, tepatnya di depan kawasan Kompleks Arun, usaha Salak Pliek Syakila telah berdiri sejak tahun 2022.
Usaha ini dijalankan oleh seorang pelaku UMKM bernama Nurfadhillah, yang telah menekuni penjualan salak pliek selama kurang lebih empat tahun.
"Pliek ini memang bumbu khas Aceh. Biasanya orang-orang mengenalnya sebagai bahan untuk sayur kuah pliek. Yang saya jual ini namanya salak pliek. Salak pliek adalah salak yang dicampur dengan pliek, cabai, garam, dan gula, kemudian diulek," ujar Nurfadhillah.
Pliek merupakan kelapa yang telah diproses dan difermentasi sehingga menghasilkan cita rasa khas dalam kuliner tradisional Aceh. Bahan ini dikenal sebagai salah satu komponen penting dalam berbagai makanan daerah karena memberikan rasa gurih dan aroma yang khas.
Olahan tersebut dijual dengan harga yang cukup terjangkau, mulai dari Rp5.000, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari pelintas jalan hingga warga sekitar.
Selain menjadi sumber penghasilan, keberadaan Salak Pliek Syakila juga menjadi bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional Aceh di tengah maraknya makanan modern. Nurfadhillah berharap usahanya dapat terus berkembang dan semakin dikenal luas oleh masyarakat.
"Karena memang jarang yang menjual salak pliek ini. Setau saya, di daerah sini cuma saya yang menjual salak pliek. Karena itulah saya ingin ikut melestarikan makanan tradisional ini," ungkapnya.
Konsistensinya dalam mempertahankan usaha tersebut membuat produk salak pliek tetap dikenal oleh masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.