Lhokseumawe, 7 Juli 2026, Mengisi waktu luang dengan knitting menjadi pilihan Sufiati, seorang ibu rumah tangga di Lhokseumawe.
Berawal dari ketertarikannya melihat komunitas knitting di Medan, ia belajar selama tiga bulan hingga mampu membuat berbagai produk rajut sendiri, mulai dari rompi, topi, tas, hingga sarung tempat tisu.
"Ada orang ngumpul rame-rame ngebuat knitting di Medan, jadi ibu tertarik ikut karena barang-barang yang dirajut cantik-cantik," ujar Sufiati.
Menurut Sufiati, knitting menghasilkan rajutan yang lebih rapi dengan beragam model. Satu produk membutuhkan waktu pembuatan paling cepat satu bulan, bahkan bisa mencapai enam bulan tergantung tingkat kesulitannya.
"Kalau sudah selesai biasanya ibu tawarkan ke orang. Lumayan lah, dapat sekitar seratus ribu sampai seratus lima puluh ribu, tergantung barangnya," jelasnya.
Bagi Sufiati, knitting tidak hanya menjadi cara mengisi waktu luang, tetapi juga menghasilkan karya yang bernilai ekonomi.